Perkembangan teknologi telah mengubah cara manusia berkomunikasi. Jika dahulu lisan hanya terdengar oleh orang-orang di sekitar, kini satu kalimat yang ditulis di media sosial dapat dibaca oleh ribuan bahkan jutaan orang dalam hitungan detik. Karena itu, menjaga lisan tidak lagi terbatas pada ucapan, tetapi juga mencakup setiap tulisan, komentar, unggahan, dan pesan yang kita bagikan di dunia digital.
Islam mengajarkan bahwa setiap perkataan memiliki konsekuensi. Allah SWT berfirman:
“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan di sisinya ada malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.”
(QS. Qaf: 18)
Ayat ini mengingatkan bahwa tidak ada ucapan ataupun tulisan yang luput dari pengawasan Allah SWT. Apa yang kita anggap sepele bisa menjadi sebab datangnya pahala atau justru dosa. Oleh karena itu, seorang Muslim hendaknya berpikir sebelum berbicara maupun menulis.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Hadis tersebut mengandung prinsip sederhana namun sangat mendalam. Setiap perkataan seharusnya membawa manfaat, memberikan solusi, menguatkan persaudaraan, atau menyebarkan ilmu. Sebaliknya, perkataan yang mengandung kebohongan, fitnah, ghibah, hinaan, maupun provokasi hendaknya ditinggalkan.
Di era media sosial, banyak orang tergoda untuk berkomentar tanpa memeriksa kebenaran informasi. Padahal Islam memerintahkan umatnya agar melakukan tabayyun atau klarifikasi sebelum mempercayai dan menyebarkan sebuah berita.
Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu.”
(QS. Al-Hujurat: 6)
Ayat ini sangat relevan dengan kondisi saat ini. Berita bohong (hoaks), fitnah, dan informasi yang dipotong dari konteksnya sering kali memicu perpecahan di tengah masyarakat. Seorang Muslim tidak boleh menjadi bagian dari penyebaran informasi yang belum jelas kebenarannya.
Selain menjaga lisan dari keburukan, Islam juga mendorong umatnya untuk memperbanyak perkataan yang baik. Memberikan nasihat, mengucapkan salam, menyampaikan ilmu, menghibur orang yang sedang bersedih, dan mengajak kepada kebaikan merupakan bentuk dakwah yang dapat dilakukan oleh setiap Muslim.
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa ukuran keimanan tidak hanya tampak dari banyaknya ibadah ritual, tetapi juga dari kemampuan menjaga orang lain agar tidak tersakiti oleh ucapan maupun tindakan kita.
Menjaga lisan di era digital berarti menggunakan media sosial sebagai sarana menyebarkan manfaat, bukan kebencian. Sebelum mengunggah sesuatu, hendaknya kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah informasi ini benar? Apakah bermanfaat? Apakah akan mendatangkan kebaikan atau justru menimbulkan mudarat? Pertanyaan sederhana ini dapat menjadi benteng agar kita tidak mudah terjerumus dalam dosa yang tersebar luas melalui teknologi.
Pada akhirnya, lisan adalah amanah. Setiap kata yang keluar dari mulut maupun jari-jari kita akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Maka, jadikanlah lisan sebagai jalan menuju pahala, bukan sumber penyesalan. Dengan menjaga ucapan dan tulisan, kita tidak hanya menjaga kehormatan diri sendiri, tetapi juga ikut membangun masyarakat yang penuh dengan kedamaian, persaudaraan, dan saling menghormati.
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita agar mampu menjaga lisan, memperbanyak perkataan yang bermanfaat, dan menjadikan setiap kata yang kita ucapkan maupun tuliskan sebagai amal saleh yang bernilai di sisi-Nya. Aamiin.